
Tanggal 3 Maret 2007, 2 tahun lalu, secara resmi saya menyelesaikan studi saya di Institut Terlanjur Beken. Antara tanggal itu hingga 6 Agustus 2007, saya melalui saat-saat yang sangat indah namun teramat singkat… hanya sekitar 5 bulan. Hari-hari itu banyak saya isi bersama dua sahabat saya, Firman dan Deo. Itu adalah masa-masa saya mengerjakan proyek RKL-RPL sumur bor di Cimahi, juga merupakan masa penantian yang panjang antara test dan pengumuman penerimaan PLN, tempat saya bekerja saat ini.
Masing-masing kami memiliki aktivitas sendiri saat itu. Saya sibuk mengikuti tes ini-itu di career center ITB, mengikuti berbagai kepanitiaan, juga merampungkan proyek. Firman adalah mitra saya di proyek yang sama. Akan tetapi pada saat itu firman belum sepenuhnya fokus di proyek karena harus mengambil data-data TA-nya yang jauh. Tragis sekali karena pada akhirnya data-data itu hilang sehingga … hmmm … yah begitulah … hingga saat ini firman masih berjuang sebagai koboi kampus banyak kasus. Deo saat itu juga sibuk mengerjakan TA yang sejujurnya saya katakan … benar-benar hanya mengandalkan keberuntungan.
Pada saat-saat itulah kedua sahabat saya itu sering mengunjungi kamar saya di asrama Bumi Ganesha-Cisitu Lama. Saya dan firman memiliki aktivitas yang sama di proyek sehingga kami sering berkoordinasi. Deo memiliki tema tugas akhir yang tidak jauh berbeda dari spesialisasi saya yakni pengolahan limbah, karenanya Deo sering bertanya mengenai bahasan tersebut.
Rasanya hari-hari yang saya lalui selama 5 bulan itu tidak jauh berbeda satu sama lain. Setiap pagi saya menyelesaikan tilawah dan zikir al-ma’tsurat, lalu jogging di lembah sungai Cikapundung. Sekembalinya saya dari jogging, saya mencari nasi bungkus ke warung dekat Mesjid Arrahim, dan makan pagi. Biasanya saat saya makan pagi, Firman tiba-tiba muncul, slonong boy langsung mengakses DVD untuk menonton Saint Seiya atau Avatar. Kadang-kadang firman juga bermalam di kamar saya, akan tetapi tentu saja aktivitas pagi hari kita berbeda. Bila saya melakukan jogging di pagi hari, bisa dipastikan firman juga melakukan jogging … di dalam mimpi tentunya.
Deo tidak jauh berbeda dengan firman, sebagai makhluk nocturnal, deo juga lebih senang melakukan aktivitas di dunia astral (baca : “tidur”) pada pagi hari. Barulah agak siang, deo ikut bergabung ke kamar saya.
Secara formal, aktivitas yang menghubungkan saya dan firman adalah proyek, dan yang menghubungkan saya dan deo adalah TA nya deo. Akan tetapi pada kenyataannya, hari-hari itu lebih banyak kami isi dengan sharing berbagai macam hal. Firman yang alumni Komunitas Gedung Kayu, alias jaringan ikhwan liberal, tentu saja lebih banyak berbicara mengenai hakikat-hakikat dan filosofi-filosofi. Hanya saja bukan filosofi yang berat-berat yang dibahas kali ini, akan tetapi filosofi empat elemen dalam serial avatar. Sesekali membahas peran satria emas Aries-Mu yang sangat signifikan dalam anime saint seiya yang baru dirilis … Hades Chapter sanctuary, Inferno dan Elysion.
Firman dan saya berulang kali menonton salah satu episode avatar – “the blind bandit” – ini merupakan episode yang paling menarik bagi kami berdua. Firman merupakan kolektor serial kartun avatar (DVD bajakan tentu saja). Selain itu, firman berkali-kali menonton DVD saint seiya pada bagian satria emas aries mu bertarung. Saya ingat sekali bagaimana puasnya firman menyaksikan seluruh teknik aries mu dikeluarkan, terutama “crystal wall”. Tidak aneh kalau firman maupun saya sangat antusias menyaksikan edisi terbaru saint seiya ini, karena anime yang menjadi tontonan rutin kami waktu SD ini ( yang akhirnya dilarang di Indonesia karena terlalu brutal). Selain itu, komiknya juga belum dianimasikan seluruhnya pada saat itu, dan baru pada 2007, bagian ending saint seiya di-animekan. Karena itu, teknik animasi yang digunakan lebih canggih daripada chapter-chapter sebelumnya dan kualitas videonya juga lebih bagus.
Lalu bagaimana dengan deo ? Whew …. let’s jus say that I was becoming such a recycle bin. Apabila deo datang … biasanya akan diawali konsultasi desain pengolahan limbah. Akan tetapi, maksimal 30 menit waktu pembahasan mengenai desain (rata-rata 10 menit) tersebut. Selanjutnya, apalagi kalau bukan curhat. Saya pikir-pikir…. kelihatannya deo benar-benar memanfaatkan karakter saya yang tidak bisa mengelak ini. Rasanya kalau diantara kami berdua ada yang curhat … pasti orangnya itu adalah deo. Deo itu tipe-tipe orang yang memecahkan masalah melalui diskusi atau mengajak orang lain bicara. Sementara, saya adalah tipe pendengar yang baik, yang merasa segan menghentikan pembicaraan apabila ada yang bicara ke saya. Karena itu, apabila deo sudah mulai curhat … jadilah itu sebuah tendangan penalti tanpa penjaga gawang. Dia tidak bisa berhenti bicara, dan saya sebagai orang plegmatis cenderung terdominasi dan tidak ingin membuat orang kecewa dengan menghentikan pembicaraan.
Pada saat ini juga saya mengalami gangguan tonsilitis yang cukup parah. Keberadaan sahabat-sahabat itu di samping saya sangat membantu saya melewati masa-masa penyembuhan. Yah … paling tidak, mereka bisa membelikan makanan buat saya sehingga saya tidak perlu berjalan sendiri (dengan gontai) ke warung makan untuk membelikan nasi bungkus, plus mengantar ke rumah sakit. Yah tidak ada yang bisa saya harapkan lebih dari itu. Kalau diingat-ingat rasanya kedua teman ini tidak menunjukkan simpati sedikit pun kepada saya yang terkapar selama 2 minggu. Firman kalau datang tetap saja slonong boy mengakses DVD saya dan lanjut nonton avatar. Sesekali memang ada menanyakan kabar saya tapi apa mungkin saya terlalu berburuk sangka, rasanya kalaupun menanyakan kabar, ekspresinya tetap saja nyengir.
Deo juga kalau datang, tanpa babibu akan membawa bahasan baru untuk dicurhatkan dan membikin pening kepala saya. Kalau melihat ekspresi mereka berdua , firman kelihatannya dalam hati hanya berkata : “halah belum mati koq…” dan deo mungkin berpikir ” … tidak masalah apakah sang recycle bin itu sehat atau tidak … toh hanya mendengar apa susahnya”.
Yah … pada dasarnya 5 bulan yang singkat itu merupakan hari-hari yang sangat biasa, tidak ada yang istimewa. Kelihatannya sederhana sekali yang kami lakukan selama itu … Kami berkumpul, membahas sesuatu ngalor-ngidul, dan menghabiskan waktu di kamar sempit bertiga. Akan tetapi kelihatannya rangkaian aktivitas bersama itu telah memenuhi salah satu kebutuhan dasar kami sebagai manusia yakni kebutuhan untuk berbagi. Tidak hanya tawa dan canda yang menjadi wujud dari berbagi itu, luapan emosi negatif dari marah hingga sebatas jengkel pun juga berbaur di sana. Kalau bagian jengkel dan marah … sudah pasti saya … kadang recycle bin kalau sudah penuh bisa meledak juga. Hufff …. jadi malu juga mengingat kekurang sabaran saya menghadapi karakter firman yang bebas dan kekurang sabaran saya menampung curhat deo yang ga ada habisnya. Yeah buddy … that’s what we call “sharing”.
Kebersamaan itu berakhir ketika pada akhirnya saya membantu veteran 2002 Salman dalam mengelola training NLYC. Pada pekan-pekan itu saya jarang berada di kamar karena sering berada di gedung kayu dan sering keluar kota. Dan pada puncaknya, tanggal 7 Agustus, sehari setelah training NLYC selesai, saya resmi meninggalkan Bandung untuk mengikuti latihan dasar PLN di Sukabumi.
Hingga saat ini, memori lima bulan itu masih sangat melekat di dalam hati saya. Setiap kali saya jogging di Indramayu, memutar sound track saint seiya seperti pegasus fantasy, blue forever, dan soldier dream, saya selalu teringat masa-masa yang singkat itu.
Deo mungkin merupakan yang merasa paling kehilangan di antara kami. Dia pernah bilang, setiap kali dia berjalan melalui asrama Bumi Ganesha dan melihat lampu kamar saya dihidupkan, dia selalu berharap, di dalam kamar itu ada saya dan firman. Tapi dia tahu … yang berada di dalam kamar itu bukanlah saya, melainkan penghuni baru yang menempati kamar saya. Dan itu sangat menusuk sekali. Untunglah deo telah memiliki tambatan hati, kiki sari, yang juga merupakan sahabat saya dan firman. Sejak deo nikah … rasanya belum pernah dia curhat lagi ke saya. Baguslah, selama ini deo curhat tanpa bayar, sementara waktu adalah uang. Rasanya sudah cukuplah istrinya menjadi teman berbagi. Saya perkirakan, kalau mereka berdua berbagi, 20% nya mungkin akan membahas dan mentertawakan kekonyolan saya dan firman. Yah … tidak apa-apa sich … barangkali ini karma bagi saya dan firman karena sering mentertawakan deo.
Bagaimana dengan firman? Hmmm … sahabat ini kelihatannya sudah melupakan masa-masa itu. Bagi dia, kehidupan itu tidak ada naik turunnya. Saat ini firman masih berjuang menyelesaikan TA nya sambil menikmati hidup yang damai di Bandung. Berhubung keluarganya memiliki sebuah bisnis keluarga, gelar ST yang diperjuangkan itu bisa dipastikan tidak akan terpakai. Saya dan teman-teman lain sangat heran melihat progres TA nya yang begitu lambat, sampai-sampai kami berhipotesis : “wah dia pasti mengulur2 kelulusan karena gak mau dijodohkan oleh keluarganya nya yang berdarah murni betawi itu”. Wallahu a’lam. Bagi firman … kehidupan itu benar-benar tidak ada naik turunnya.
Pada pekan ini …. kami bertiga berulang tahun. Entah apa korelasi tanggal lahir dengan kedekatan seseorang. Akan tetapi, subhanallah …. ternyata ada yang unik pada tanggal lahir kami:
Firman Malazi : 29 Maret 1983.
Fanny Abdul Aziz : 30 Maret 1984.
Amadeo : 31 Maret 1985.
Tanggal lahir kami benar-benar seperti deret hitung, yang berjarak 1 tahun 1 hari. Masya Allah….
Tentu saja akan jatuh kepada syirik apabila kami menghubung-hubungkan tanggal lahir dengan persahabatan yang terjalin itu.
Dan tentu saja tidak logis apabila kami menganalogikan seperti keluarga satria emas aries di Saint seiya … Aries Shion alias Grand Pope, Aries Mu, dan Aries Appendix Kiki. Di antara 12 zirah emas, zirah aries adalah satu-satunya yang diketahui identitas pemiliknya dari 3 generasi yang berbeda.
Sama sekali tidak ada korelasinya … tapi lumayan untuk dijadikan bahan pembicaraan setiap kali kami bertiga berulang tahun. Saat ini kami telah terpisah-pisah, paling jauh tentu saja deo yang ikut istrinya di Banjarmasin. Saya saat ini mengerjakan power plant project di Indramayu, dan Firman kelihatannya menikmati kehidupannya sebagai koboi kampus banyak kasus di Bandung. Saya dan Firman masih sering bertemu, karena saya masih rutin ke Bandung. Entah kapan kami bertiga akan bertemu lagi. Barangkali kalau kami bertiga bertemu, Asrama BG telah direlokasi dan kamar saya yang dulu menjadi tempat kongkow kami mungkin sudah tinggal pondasinya. Wallahu a’lam. However … that was a good moment.
Well then …
Happy birthday Aries Firman ….
Happy birthday Aries Fanny ….
Happy birthday Aries Deo …
Semoga ukhuwah yang selama ini terjalin akan meninggalkan jejak-jejak abadi walau tidak kita sadari.
=============================================================================
firman dan deo …. Maaf apabila selama ini menuntut terlalu banyak dari kalian berdua ….
Indramayu, 28 Maret 2009.